FPI Ormas Terbaik Indonesia Dibidang Nahi Munkar


fpi ormas terbaik indonesia

Salah satu ormas Islam yang paling fenomenal di republik ini adalah Front Pembela Islam yang disapa dengan FPI. Berbeda dengan ormas-ormas Islam yang lainnya, terutama Muhammadiyah dan NU, ormas Islam yang satu ini telah mendarah daging dicap sebagai ormas yang arogan, anarkis, radikal, kasar, main hakim sendiri, dan seterusnya. Bahkan, oleh media-media tertentu, media sekuler maksud saya, FPI acap kali menjadi "bulan-bulanan" pemberitaan mereka. Faktanya memang tidak pernah mereka memberitakan hal yang positif tentang FPI.

Di samping itu, hari ini, muncul kembali wacana pembubaran FPI. Tak tanggung-tanggung, kali ini datangnya dari Ketua Umum Pengurus Besar NU 2010-2015 dan 2015-2020, Said Aqil Siradj.
Sebagai orang Islam, sebagai orang Indonesia asli, sungguh saya merasa miris akan cap yang ditancapkan terhadap FPI ini. Berikut beberapa catatan saya mengenai FPI.

Pertama, ironis sungguh ironis kalau kita memvonis sesuatu hanya berdasarkan pemberitaan televisi maupun koran tanpa terlebih dahulu mencari data pembanding, terlebih lagi dari televisi-televisi maupun koran-koran yang selama ini dikenal sebagai saluran kaum sekuler, yang tidak senang dengan Islam. Pemberitaannya hanya mengambil bagian tertentu, yang penting komersial. Padahal, kenyataan yang sesungguhnya tidak seperti itu. Inilah yang dialami oleh FPI selama ini berdasarkan analisis atau renungan saya dari beberapa referensi saya baca dan yang saya amati.

Media-media sekuler itu tidak fair dalam pemberitaan. Yang baik dari FPI tidak pernah mereka beritakan. Sebagai contoh, mungkin banyak yang tak tahu, ketika FPI menggugat aturan legalisasi minuman beralkohol ke MA, lalu MA kabulkan gugatan FPI itu. Ini tidak ada televisi yang meliputnya. Padahal konsekuensi dengan dikabulkan gugatan ini luar biasa. Minuman beralkohol jadi ilegal. Tak boleh beredar lagi. Inikan luar biasa dampak positifnya baik terhadap negara maupun terhadap agama. Sebab, mau jadi apa negeri ini, mau jadi apa umat ini ketika pemerintah melegalkan minuman yang merusak itu?

Begitu juga, ketika FPI mengevakuasi 70.000 korban Tsunami Aceh,FPI mendirikan posko bencana Gunung Merapi, FPI membantu saudara-saudara kita yang ada di Gaza, dan seterusnya. Sayang seribu kaling sayang, hal ini pun kembali luput dari pemberitaan televisi dan koran bersaluran sekuler tersebut.

Kedua, saya merasa terharu ketika FPI mendatatangi kompas group. Terlebih lagi pemberitaan mereka di media cetak maupun online yang begitu menyudutkan Islam. Islam itu radikal. Islam itu intoleransi. Lebih lanjut bisa dibuka youtube, yaitu: "FPI Datangi & Tegur Kompas Terkait Framing Berita Anti Syariat Islam".

Bagi saya itu luar biasa. Saya tidak mampu seperti itu. Di situ FPI tidak anarkis. FPI di situ sopan. FPI di situ tegas. FPI tidak merusak kantor Kompas. FPI bela Islam. Sebagai orang kampus, saya menilai, argumentasi yang dibangun FPI luar biasa. Sangat akademik. Sarat dengan data dan fakta. Mereka beberkan semua itu. Allahu Akbar. Sekali lagi luar biasa. Salut saya untuk FPI.

Ketiga, dakwah itu ada yang melalui amar ma'ruf dan ada melalui nahi munkar. Amar ma'ruf, memang caranya lembut. Nahi munkar, caranya tegas. Mungkin sebagian orang menganggapnya kasar.

Kebanyakan ormas Islam, ulama atau ustad mengambil "ladang" amar ma'ruf itu. Misalkan Aa Gym mengajak dengan penuh kelembutan untuk menjaga hati, Ustad Yusuf Mansur dengan sedekahnya, Ustad Arifin Ilham dengan zikirnya, NU "juara" dengan sekolah Islamnya (pondok pesantren), Muhammadiyah "juara" dengan perguruan tingginya. Namun dalam hal "ladang" nahi munkar, misalkan legalisasi minuman beralkohol bukankah selama ini NU "mendiamkan" atau tanpa aksi nyata. Begitu juga Muhammadiyah, Aa Gym, Ustad Yusuf Mansur, Ustad Arifin Ilham, dan lainnya tidak pernah menggugat aturan yang melegalkan yang haram itu. Tapi dalam hal ini, FPI "juaranya". Gugatan FPI ke MA itu adalah bentuk aksi yang paling bernas dan tegas sebagai bentuk penolakan tersebut. Ingat, berdakwah itu tidak hanya di mesjid-mesjid ataupun di kampus-kampus. Tapi terkadang juga butuh tindakan konkrit.

Dari itu, bukan berarti saya menyalahkan NU, begitu juga Muhammadiyah, Aa Gym, Ustad Yusuf Mansur, Ustad Arifin Ilham, dan lainnya. Tidak, saya tidak menyalahkan mereka. Saya menghormati mereka. Mereka itu ulama. Tapi itulah ranah dakwah yang mereka pilih. Kita butuh mereka juga.

Sedangkan FPI, mereka lebih banyak menjatuhkan pilihan dakwah kepada nahi munkar. Kita butuh ini juga. Apa sebab, dalam suatu riwayat disebutkan bahwa, suatu ketika Allah memerintahkan malaikat untuk menimpahkan azab kepada suatu kaum/kelompok karena penduduknya pemaksiat di situ. Turunlah malaikat, namun ia menemukan satu orang yang sholat. Malaikat kembali lagi kepada Allah. Ya Allah, ada hambamu yang masih sholat di situ. Apa kata Allah, mulailah azab itu dari dia. Kenapa? Dia mendiamkan atau membiarkan kemaksiatan itu merajalela. Dia tidak mengingatkan orang-orang di sekitarnya. Itulah ranah FPI. Dan ingat, ranah nahi munkar lebih berat daripada ranah amar ma'ruf. Sebab ia akan berhadapan dengan pemodal. Ia akan berhadapan dengan para preman yang menjadi "pelindung" tempat-tempat maksiat di mana FPI sweeping. Bahkan suka atau tidak, yang mengambil ranah nahi munkar dalam dakwahnya juga akan berhadapan dengan aparat penegak hukum itu sendiri. Tapi apa boleh buat. Itulah hidup.

Keempat, kita harus cari tahu, mengapa FPI beraksi seperti itu, misalkan sweeping di kafe-kafe atau tempat hiburan malam? Sebab, tidak fair, kalau kita memvonis sesuatu tanpa mengetahui apa yang melatarbelakangi.
Tak dipungkiri, di berbagai kesempatan negara membiarkan kemungkaran di negeri ini. Padahal agama telah mengingatkan kita, bahwa: "Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman." (HR. Muslim)

Karena negara membiarkan kemungkaran itu, seharusnya negaralah yang merubah dengan tangan mereka melalui kekuasaan yang mereka punya atau melalui aparatnya, apa boleh buat, FPI yang turun tangan mengambil alih tugas negara itu. Dan, saya tidak bisa menyalahkan FPI dalam hal ini. Malahan berterimakasih. Yang salah adalah negara. Negara lupa akan pembangunan moral. Sibuk dengan pembangunan fisik. Padahal penggalan lagu Indonesia Raya menyebutkan bahwa: "Bangunlah jiwanya bangunlah badannya untuk Indonesia Raya". Moral dibangun dulu, barulah setelah itu pembangunan fisik.

Kelima, kalau ada tikus di rumah, maka jangan rumahnya itu yang dibakar. Begitu juga dengan FPI. Kalau ada anggotanya yang anarkis, melanggar hukum, maka proseslah menurut hukum yang berlaku. Bukan FPI yang dibubarkan. Inilah kesalahan berfikir selama ini terhadap FPI. Atau jangan-jangan sentimen yang tidak mendasar saja. Seolah-olah tak ada baiknya FPI itu.

Sebab, kalau begitu logikanya. Maka, terlebih dahulu DPR lah yang harus dibubarkan di republik ini. Apa sebab? Dikarenakan banyak anggota DPR yang terlibat dalam kasus korupsi.

Begitu juga dengan partai politik. Coba tunjukkan kepada saya satu saja partai politik hari ini yang anggotanya baik di pusat maupun di daerah yang tidak pernah terlibat korupsi. Jawabannya tak ada. Semua partai politik terlibat kasus korupsi.

Di penghujung artikel ini, saya ajukan satu pertanyaan, "jika FPI dibubarkan, siapa yang akan melakukan nahi mungkar di negara ini?" Jawabannya adalah tidak ada yang terstruktur, sistematis, dan masif seperti FPI. Terimakasih Habib Rizieq. Terimakasih FPI. Terimakasih. Sebab kami tidak mampu seperti kalian. Kami sibuk dengan dunia kami. Jarang kami perhatikan agama ini. Kami terlalu cinta akan dunia ini. Kami sibuk dengan jabatan kami. Kami sibuk mencari bermacam sesuatu yang nyata-nyatanya juga tidak akan kami bawa mati. Kami sadari bahwa nahi munkar bukanlah maunya kalian, tapi maunya Allah. Sekali lagi terimakasih karena telah banyak berbuat untuk Islam dan Indonesia ini kendatipun kalian difitnah berkali-kali. Allah merahmati kalian. Lanjutkan!

Oleh: Wira Atma Hajri, S.H., M.H.(Riaubook.com )

Previous
Next Post »